Fenomena klub-klub BRI Super League merekrut pemain diaspora dan naturalisasi Timnas Indonesia terus berlanjut hingga penutupan bursa transfer paruh kedua musim ini. Sejumlah nama muda yang sebelumnya berkarier di Eropa kini memilih pulang dan melanjutkan perjalanan karier di kompetisi domestik.
Persija Jakarta menjadi salah satu klub yang aktif dengan resmi mengontrak Shayne Pattynama dan Mauro Zijlstra yang masih berusia 21 tahun. Sementara itu, Persib Bandung memulangkan Dion Markx (20 tahun) dan disusul Ivan Jenner (22). Keempat pemain tersebut merupakan bagian dari skuad Timnas Indonesia U-22 yang tampil di SEA Games Thailand 2025.
Kepulangan para pemain muda diaspora ini memunculkan perdebatan. Di satu sisi, mereka dinilai dapat menambah kualitas kompetisi. Namun di sisi lain, usia yang masih sangat muda membuat banyak pihak mempertanyakan apakah BRI Super League merupakan tempat terbaik untuk perkembangan jangka panjang mereka.
Minim Menit Bermain Jadi Catatan
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah pemain naturalisasi yang lebih dulu bergabung di putaran pertama BRI Super League justru mengalami keterbatasan menit bermain. Rafael Struick yang memperkuat Dewa United hanya mencatatkan 325 menit tampil dari 10 laga liga, ditambah 67 menit di ajang AFC Challenge League dengan satu gol.
Sementara itu, Jens Raven bersama Bali United bermain selama 195 menit dari total 14 pertandingan, dengan kontribusi satu gol dan satu assist. Catatan ini terbilang minim jika dibandingkan dengan ekspektasi besar yang sempat disematkan kepada keduanya saat pertama kali bergabung.
Padahal, saat kedatangan mereka ke Indonesia, manajemen klub dan jajaran pelatih sempat memuji potensi besar Rafael Struick dan Jens Raven. Keduanya disebut sebagai proyek jangka panjang yang akan dikembangkan secara bertahap.
Namun, realitas kompetisi yang ketat membuat janji pengembangan pemain muda tidak selalu berjalan ideal.
Persaingan Ketat di BRI Super League
Persaingan di BRI Super League dikenal sangat keras. Setiap klub dituntut meraih hasil maksimal di setiap pertandingan, sehingga pelatih cenderung menurunkan pemain yang dinilai paling siap secara teknis dan mental.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Mauro Zijlstra, Dion Markx, dan Ivan Jenner akan bernasib sama seperti Rafael Struick dan Jens Raven?
Pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa Raja Akram Syah, menilai peluang menit bermain tetap terbuka, tetapi sangat bergantung pada keputusan pelatih dan kebutuhan tim.
Menurutnya, regulasi kompetisi yang mewajibkan klub menurunkan pemain U-22 memberikan celah bagi pemain muda diaspora untuk tampil. Terlebih, mereka tidak tercatat sebagai pemain asing sehingga lebih fleksibel secara regulasi.
Meski demikian, Raja Isa menekankan bahwa regulasi bukan jaminan utama. Faktor kesiapan dan konsistensi tetap menjadi penentu apakah seorang pemain mendapat kepercayaan penuh.
Dampak Positif bagi Industri Sepak Bola
Dari sudut pandang lain, Raja Isa melihat fenomena ini sebagai bagian dari industri sepak bola modern. Popularitas pemain diaspora Timnas Indonesia dinilai memiliki nilai jual tinggi, baik dari sisi pemasaran maupun komersial.
Nama-nama yang sudah dikenal publik lewat Timnas Indonesia dianggap mampu menarik minat penonton, meningkatkan nilai sponsor, serta memperkuat citra kompetisi. Dalam konteks ini, kehadiran mereka di BRI Super League bukan semata soal teknis, tetapi juga strategi bisnis klub.
Menurut Raja Isa, hal tersebut merupakan praktik wajar di sepak bola profesional, selama tidak mengorbankan keseimbangan kompetisi dan perkembangan pemain.
Zona Nyaman demi Kesempatan Bermain
Raja Isa juga menilai bahwa meskipun peluang bermain di BRI Super League terbilang ketat, kondisi tersebut masih bisa dianggap lebih baik dibandingkan bertahan di Eropa tanpa menit bermain yang jelas.
Ia menyebut bahwa para pemain muda diaspora kemungkinan berada di “zona nyaman”. Nyaman karena peluang tampil lebih terbuka, adaptasi budaya lebih mudah, serta potensi mendapatkan kontrak yang secara finansial lebih menguntungkan.
Namun, zona nyaman ini juga mengandung risiko. Jika tidak disertai mental bersaing dan kerja keras, pemain justru bisa stagnan dan kehilangan momentum perkembangan.
Tantangan Berat Menanti Pemain Muda Diaspora
Jika melihat komposisi skuad klub besar seperti Persib dan Persija, persaingan di lini pemain U-22 juga tidak kalah ketat. Banyak talenta lokal muda yang telah lebih dulu beradaptasi dengan karakter liga.
Kondisi ini menuntut pemain diaspora untuk bekerja ekstra keras. Raja Isa menilai pelatih-pelatih di BRI Super League, seperti di Dewa United dan Bali United, cenderung objektif dalam menentukan susunan pemain tanpa memandang status naturalisasi.
Artinya, pemain diaspora muda Timnas Indonesia harus siap bersaing secara adil. Mereka juga harus siap menghadapi kenyataan pahit jika tidak langsung mendapat menit bermain.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kepulangan ke BRI Super League bukan jaminan karier akan berjalan mulus. Konsistensi, disiplin, dan mental juara tetap menjadi kunci agar para pemain muda diaspora benar-benar berkembang dan memberi dampak nyata bagi klub maupun Timnas Indonesia.
BACA JUGA :












