1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Belajar dari Era Guus Hiddink, Timnas Indonesia Diminta Bersabar dengan John Herdman

Kehadiran John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia memunculkan harapan besar sekaligus tantangan yang tidak ringan. Pelatih asal Inggris ini datang membawa misi jangka panjang, termasuk menyiapkan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2030. Namun, membangun filosofi permainan yang sesuai dengan karakter sepak bola Indonesia jelas bukan proses instan.

Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menilai bahwa publik dan PSSI perlu bersabar dalam menilai kinerja Herdman. Menurut Kusnaeni, membangun fondasi permainan tim nasional membutuhkan waktu, karena setiap pelatih memiliki pendekatan dan filosofi yang berbeda-beda.

“Setiap pelatih punya filosofi masing-masing. John Herdman datang dari kultur sepak bola yang berbeda. Dia datang dari Inggris dengan filosofi berbeda dari Belanda, berbeda juga dengan Korea Selatan,” ujar Kusnaeni dalam kanal YouTube Nusantara TV. Ia mengingatkan agar semua pihak tidak gegabah dalam mengambil kesimpulan di tengah program kepelatihan Herdman yang masih berjalan.

Adaptasi Kultur dan Filosofi Bermain

John Herdman yang dikontrak hingga 2027 dengan opsi perpanjangan dua tahun, datang sebagai pengganti Patrick Kluivert. Tugasnya tidak mudah, mengingat ia harus membenahi Timnas Indonesia setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026. Adaptasi menjadi kunci utama agar filosofi bermainnya bisa diterapkan sesuai karakter pemain Indonesia.

Kusnaeni menekankan bahwa proses adaptasi pelatih asing membutuhkan waktu. Filosofi bermain tidak bisa langsung diterapkan begitu saja, karena kondisi sepak bola di Indonesia berbeda dengan negara asal pelatih.

“Ketika dia datang ke Indonesia, dia harus menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola kita dan membangun filosofi permainan yang sesuai. Itu bukan waktu yang sebentar,” kata Kusnaeni. Ia mencontohkan proses Shin Tae-yong yang butuh sekitar dua tahun untuk menampilkan identitas permainan Timnas Indonesia.

Jangan Gegabah Menilai

Lebih lanjut, Kusnaeni mengingatkan agar evaluasi terhadap Herdman dilakukan secara proporsional. Menghakimi pelatih terlalu cepat dapat berakibat fatal dan membuat proses pembangunan tim nasional kembali dari nol.

“Kalau kita gegabah menilai kinerjanya, apalagi sebelum kontraknya berjalan dua tahun, nanti kita akan menghadapi persoalan yang sama. Kita mulai dari nol lagi,” ujarnya. Kusnaeni memberi analogi menarik, “Seperti mengisi bensin, jangan sampai tangki bocor di jalan. Isi penuh dari awal, baru sampai tujuan. Jangan bolak-balik ke pom bensin.”

Belajar dari Guus Hiddink dan Korea Selatan

Untuk memperjelas pandangannya, Kusnaeni mencontohkan sukses Guus Hiddink saat menangani Timnas Korea Selatan menjelang Piala Dunia 2002. Pada periode persiapan, banyak pertandingan uji coba yang justru berakhir dengan kekalahan. Hal ini sempat membuat publik Korea Selatan pesimistis, namun hasil akhirnya justru bersejarah.

“Guus Hiddink menukangi Korea Selatan sebelum Piala Dunia 2002. Banyak uji coba berakhir kekalahan, publik sempat pesimis. Tapi hasilnya luar biasa, mereka menembus semifinal dan sampai sekarang menjadi tim Asia paling berprestasi di Piala Dunia,” ungkap Kusnaeni. Ia menekankan bahwa hasil jangka pendek tidak selalu mencerminkan potensi jangka panjang.

Contoh Korea Selatan menunjukkan bahwa membangun tim nasional adalah proses yang bertahap. Kemenangan instan bukan ukuran keberhasilan; fondasi, mentalitas, dan sistem permainan harus dibangun secara matang.

Kesabaran Menjadi Kunci Keberhasilan

Kusnaeni menekankan bahwa proyek Herdman di Timnas Indonesia memerlukan kesabaran dari semua pihak, mulai dari PSSI hingga publik sepak bola nasional. Pelatih perlu ruang untuk menanamkan filosofi, membangun chemistry antar pemain, dan menyiapkan strategi jangka panjang.

“John Herdman pasti sudah menyiapkan program matang untuk Timnas Indonesia. Tapi program ini tidak selalu berjalan mulus, pasti ada tantangan dan benturan di tengah jalan,” ujar Kusnaeni.

Ia menambahkan bahwa kesabaran menjadi syarat utama agar Herdman bisa memaksimalkan potensinya sebagai pelatih. Publik Indonesia perlu memahami bahwa proses pembangunan tim nasional bukan proyek jangka pendek.

Menanti Wajah Baru Timnas Indonesia

Kini, publik sepak bola Tanah Air tinggal menunggu hasil dari program Herdman. Seperti apa identitas permainan Timnas Indonesia di bawah sentuhannya, bagaimana filosofi baru diterapkan di lapangan, serta bagaimana mentalitas pemain terbangun, menjadi sorotan utama.

Kusnaeni percaya bahwa dengan kesabaran, dukungan penuh dari federasi dan suporter, serta ruang bagi Herdman untuk bekerja sesuai rencana, Timnas Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang pesat. Proses yang konsisten dan strategi jangka panjang akan menjadi modal penting untuk mencapai target besar, termasuk Piala Dunia 2030.

Bagi masyarakat dan penggemar sepak bola Indonesia, pesan utama adalah bersabar dan memberikan waktu bagi Herdman. Seperti halnya Korea Selatan di era Guus Hiddink, kesuksesan tidak datang instan. Melalui kesabaran dan dukungan, Timnas Indonesia diharapkan mampu menampilkan wajah baru yang lebih solid, kompetitif, dan membanggakan di panggung internasional.

ALSO READ :

TAGS:
CLOSE