Kebutuhan mendesak di sektor lini tengah membuat Timnas Indonesia terus bergerak mencari solusi jangka panjang. PSSI bersama pelatih kepala John Herdman kini semakin aktif memantau pemain-pemain potensial yang memiliki darah Indonesia dan pengalaman bermain di level kompetitif. Salah satu nama yang mencuat kuat dalam beberapa pekan terakhir adalah gelandang Madura United, Jordy Wehrmann.
Nama Wehrmann dianggap relevan dengan kebutuhan Timnas Indonesia saat ini. Dua pilar utama di lini tengah, Thom Haye dan Joey Pelupessy, memang masih tampil solid. Namun faktor usia menjadi pertimbangan besar. Joey Pelupessy kini menginjak usia 32 tahun, sementara Thom Haye juga tidak lagi masuk kategori pemain muda. Dengan padatnya agenda internasional ke depan, regenerasi menjadi agenda yang tak bisa ditunda.
John Herdman dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan intensitas, mobilitas tinggi, serta keseimbangan antara pengalaman dan energi muda. Dalam konteks itu, Jordy Wehrmann dinilai memiliki profil yang mendekati kebutuhan permainan Timnas Indonesia ke depan.
Jejak Karier Eropa yang Matang
Jordy Wehrmann bukan nama sembarangan. Gelandang kelahiran Den Haag, Belanda, 25 Maret 1999 ini merupakan produk asli Akademi Feyenoord, salah satu pusat pembinaan pemain terbaik di Eropa. Didikan akademi elite tersebut membentuk Wehrmann sebagai gelandang dengan pemahaman taktik kuat, distribusi bola rapi, serta visi bermain yang matang.
Setelah menimba ilmu di Feyenoord, karier profesionalnya berlanjut ke sejumlah klub Eropa. Ia sempat memperkuat Dordrecht, kemudian melanjutkan petualangan ke Swiss bersama Luzern. Wehrmann juga pernah berseragam ADO Den Haag sebelum menjajal pengalaman di Eropa Timur bersama Vukovar 1991.
Pengalaman lintas liga tersebut menempa mental dan adaptabilitas Wehrmann. Pada 2024, ia memilih tantangan baru dengan bergabung ke Madura United. Keputusan tersebut perlahan membuktikan kualitasnya, terutama dalam mengatur tempo permainan dan menjaga keseimbangan lini tengah tim berjuluk Laskar Sape Kerrab.
Darah Indonesia yang Mengalir Kuat
Seperti banyak pemain keturunan Belanda lainnya, Jordy Wehrmann juga memiliki ikatan emosional dengan Indonesia. Darah Indonesia mengalir dari garis keluarga sang ibu.
“Kedua orang tua ibu saya lahir dan besar di Jakarta. Mereka pindah ke Belanda saat masih berusia 16 tahun,” ungkap Wehrmann dalam sebuah perbincangan santai.
Meski tumbuh besar di Belanda, cerita tentang Indonesia bukan hal asing baginya. Sang nenek menjadi sosok penting yang kerap menanamkan kecintaan terhadap tanah leluhur.
“Dia sering bercerita tentang Indonesia, tentang budaya, makanan, dan sejarah. Itu membuat saya merasa punya hubungan khusus dengan Indonesia,” tutur Wehrmann.
Kedekatan emosional tersebut menjadi faktor penting dalam proses naturalisasi. Tidak hanya soal administrasi, tetapi juga soal identitas dan rasa memiliki terhadap Merah Putih.
Pertemuan Tak Terlupakan dengan Robin van Persie
Dari sekian banyak pengalaman berharga dalam perjalanan kariernya, pertemuan dengan legenda Belanda Robin van Persie menjadi momen yang paling membekas bagi Jordy Wehrmann.
Pada 2018, Robin van Persie memutuskan kembali ke Feyenoord setelah malang melintang bersama Arsenal dan Manchester United. Tak hanya sebagai pemain, Van Persie kini juga dipercaya masuk dalam struktur kepelatihan Feyenoord.
Bagi Wehrmann yang kala itu masih berusia 19–20 tahun, kehadiran Van Persie di ruang ganti terasa seperti mimpi.
“Itu benar-benar mimpi yang jadi kenyataan. Saya tumbuh dengan menonton dia bermain di Arsenal dan Manchester United. Lalu tiba-tiba dia ada di ruang ganti yang sama dengan saya,” kenangnya.
Banyak Pelajaran Berharga dari Sang Legenda
Wehrmann mengaku banyak belajar dari sikap profesional dan detail kecil yang selalu ditekankan Van Persie, terutama dalam sesi latihan.
“Saya belajar bagaimana dia membantu pemain muda, bagaimana dia memperhatikan detail, dan bagaimana cara dia melatih,” ujar Wehrmann.
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat sesi latihan passing. Van Persie menghentikan latihan dan langsung memberi koreksi teknis secara spesifik.
“Kami latihan sekitar 15 menit, lalu dia mendekat dan bilang saya mengoper dengan kaki yang salah. Dia bilang, ‘Kita harus ke sisi kanan, pakai kaki kanan supaya kamu bisa langsung berbalik’,” cerita Wehrmann.
Tak berhenti di situ, Van Persie juga menantangnya secara mental.
“Dia berkata, ‘Dengan kualitas dan teknikmu, bagaimana mungkin kamu kehilangan tiga bola dalam 15 menit?’ Itu tamparan keras, tapi sangat membangun,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut membentuk mentalitas Wehrmann sebagai pemain yang lebih disiplin, detail, dan bertanggung jawab—karakter yang sangat dibutuhkan di level tim nasional.
Potensi Besar untuk Timnas Indonesia
Dengan usia yang masih 26 tahun, pengalaman Eropa yang kaya, serta adaptasi cepat di sepak bola Indonesia, Jordy Wehrmann menjadi kandidat kuat untuk memperkuat lini tengah Timnas Indonesia. Jika proses naturalisasi berjalan lancar, kehadirannya diyakini bisa menambah kedalaman skuad sekaligus menjadi jembatan regenerasi.
Bagi John Herdman, Wehrmann bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga investasi jangka menengah untuk menjaga stabilitas permainan Timnas Indonesia di level Asia.
BACA JUGA :












