Sriwijaya FC kembali menjadi sorotan negatif di Championship 2025/2026. Tim yang pernah menorehkan sejarah sebagai juara Liga Indonesia dua kali dan tiga kali Piala Indonesia itu kini mengalami keterpurukan luar biasa. Di tengah isu krisis finansial dan internal yang tidak kondusif, Laskar Wong Kito terus menjadi bulan-bulanan lawan-lawan mereka.
Matchday ke-18 Grup 1 Championship semakin menegaskan kondisi tragis tim asal Palembang ini. Pada Kamis (29/1/2026), Sriwijaya FC dihancurkan oleh Adhyaksa FC Banten dengan skor telak 15-0 di Stadion Internasional Banten, Serang. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi suporter sekaligus menambah catatan buruk bagi tim yang pernah berjaya di kancah sepak bola nasional.
Babak Pertama dan Kedua yang Menyedihkan
Sriwijaya FC langsung terpojok sejak babak pertama. Laskar Wong Kito sudah kebobolan tujuh gol sebelum turun minum. Kekalahan paruh pertama ini menunjukkan betapa rapuhnya lini pertahanan mereka, serta kurangnya koordinasi antara pemain.
Pada babak kedua, penderitaan Sriwijaya FC tidak kunjung reda. Delapan gol tambahan bersarang di gawang mereka, membuat total skor menjadi 15-0. Tim pelatih Adhyaksa FC Banten berhasil memanfaatkan setiap kelemahan yang ditunjukkan skuad Laskar Wong Kito, menekankan betapa tajamnya lini serang lawan musim ini.
Statistik Tragis: 2 Poin dari 18 Laga
Musim 2025/2026 menjadi salah satu yang paling mengecewakan bagi Sriwijaya FC. Dari 18 pertandingan yang dijalani, mereka hanya mampu meraih dua poin hasil dua imbang, tanpa satupun kemenangan. Laskar Wong Kito menelan 16 kekalahan, mencetak 13 gol, namun kebobolan 69 gol, dengan selisih minus 56.
Catatan ini memperlihatkan jurang performa yang amat jauh antara Sriwijaya FC dengan tim-tim lain di Championship. Tren ini juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai manajemen tim, strategi pelatih, dan kondisi internal pemain.
Rekor Kekalahan Sebelumnya
Kekalahan 0-15 dari Adhyaksa bukanlah yang pertama musim ini. Sebelumnya, Laskar Wong Kito sudah menelan sejumlah kekalahan telak, antara lain:
- 0-5 dari Sumsel United
- 0-5 dari Persiraja Banda Aceh
- 2-7 dari Garudayaksa
- 0-7 dari FC Bekasi City
Rangkaian hasil buruk ini menunjukkan masalah sistemik yang dialami tim. Baik dari segi taktik, kualitas pemain, maupun kondisi internal, Sriwijaya FC belum menemukan formula yang tepat untuk bangkit.
Isu Internal dan Penunggakan Gaji
Selain performa di lapangan, isu finansial turut memperburuk situasi. Beberapa media sosial ramai membicarakan dugaan penunggakan gaji pemain Sriwijaya FC. Kondisi ini diyakini berdampak besar terhadap motivasi dan mental pemain, sehingga keterpurukan tim semakin nyata.
Situasi ini menjadi bukti bahwa masalah internal dapat langsung memengaruhi performa di lapangan. Tanpa dukungan manajemen yang kuat dan suasana internal yang kondusif, tim yang pernah berjaya pun bisa cepat merosot ke posisi paling bawah klasemen.
Skuad Sriwijaya FC yang Pernah Berprestasi
Sriwijaya FC musim ini dilatih oleh Budi Sudarsono, legenda Timnas Indonesia yang pernah membawa nama harum sepak bola nasional. Selain itu, tim masih memiliki beberapa pemain jebolan Liga 1 seperti Indra Mustafa dan Nugroho Fathcur Rochman.
Namun, pengalaman dan reputasi pemain-pemain ini tidak mampu menutupi masalah internal yang serius. Kombinasi mental yang terguncang, kondisi finansial, dan tekanan kompetisi membuat Laskar Wong Kito sulit bersaing, bahkan menghadapi tim-tim yang secara statistik lebih lemah.
Ancaman Degradasi ke Liga Nusantara
Dengan performa seperti ini, ancaman degradasi ke Liga Nusantara menjadi kenyataan yang semakin dekat. Posisi Sriwijaya FC di dasar klasemen sementara hampir mustahil untuk diperbaiki jika tren negatif berlanjut.
Para pengamat sepak bola lokal menilai, tim yang dulu dikenal sebagai raksasa sepak bola Sumatera Selatan ini kini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah modern mereka. Kehilangan motivasi, rendahnya kualitas persiapan, dan lemahnya koordinasi internal menjadi faktor utama keterpurukan Laskar Wong Kito.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meski situasi sangat buruk, Sriwijaya FC masih memiliki waktu tersisa untuk menyelamatkan musim mereka. Dibutuhkan restrukturisasi internal, perbaikan manajemen, dan disiplin finansial agar mental pemain bisa bangkit.
Para penggemar setia berharap tim bisa kembali ke jalur positif, walau ancaman degradasi nyata membayangi. Tanpa langkah nyata dari manajemen dan pelatih, Sriwijaya FC hanya akan menjadi catatan tragis di Championship 2025/2026.
BACA JUGA :












