Pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman, menegaskan bahwa pintu bagi pemain diaspora masih terbuka lebar. Dalam konferensi pers perkenalannya di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026) pagi WIB, Herdman secara terbuka menyampaikan pandangannya mengenai kebutuhan Skuad Garuda untuk bersaing di level internasional.
Herdman menilai Timnas Indonesia harus berpikir jangka panjang, khususnya dengan target besar menembus Kualifikasi Piala Dunia 2030. Menurutnya, membangun tim nasional yang kompetitif membutuhkan kombinasi pemain lokal berkualitas dan tambahan kekuatan dari pemain keturunan yang berkiprah di level elite.
“Jika Anda melihat perjalanan saya bersama Kanada, saya memiliki filosofi yang sangat jelas. Untuk bersaing di panggung dunia, Anda membutuhkan pemain level satu dan dua, pemain yang bermain di lima liga top dunia,” ujar Herdman.
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa naturalisasi pemain diaspora masih menjadi bagian penting dari strategi Timnas Indonesia di bawah kepemimpinannya. Beberapa nama pun kembali mencuat sebagai kandidat potensial untuk memperkuat Skuad Garuda.
Filosofi John Herdman dan Arah Baru Timnas Indonesia
John Herdman dikenal sebagai pelatih yang sukses membangun fondasi kuat bersama Timnas Kanada hingga tampil di Piala Dunia 2022. Pendekatannya menekankan keseimbangan antara identitas nasional, disiplin taktik, dan kualitas individu pemain.
Untuk Indonesia, Herdman melihat potensi besar, terutama dari basis pemain muda dan dukungan publik yang masif. Namun, ia juga realistis bahwa level kompetisi internasional menuntut kualitas fisik, pengalaman, dan mental bertanding yang tinggi.
Karena itulah, opsi pemain diaspora kembali mengemuka. Herdman menegaskan bahwa setiap pemain dengan darah Indonesia yang memiliki kualitas dan komitmen akan dipantau secara serius.
Jayden Oosterwolde, Bek Serbabisa Berpengalaman Eropa
Nama Jayden Quinn Oosterwolde menjadi salah satu kandidat yang paling menyita perhatian. Pemain kelahiran Zwolle, Belanda, 26 April 2001 itu saat ini membela Fenerbahce di Super Lig Turki, salah satu liga paling kompetitif di Eropa Timur.
Oosterwolde mengawali kariernya di akademi FC Twente sebelum promosi ke tim senior pada musim 2020/2021. Ia kemudian melanjutkan karier ke Italia bersama Parma sebelum akhirnya hijrah ke Turki pada Januari 2023.
Bersama Fenerbahce, Oosterwolde telah mencatatkan puluhan penampilan di berbagai kompetisi, termasuk ajang Eropa. Keunggulannya terletak pada fleksibilitas posisi. Selain bek kiri, ia juga mampu bermain sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan.
Dengan postur 189 cm, kecepatan, serta kemampuan duel yang solid, Oosterwolde dinilai cocok dengan kebutuhan sepak bola modern. Meski sempat menyatakan masih memprioritaskan peluang di Belanda, pernyataannya tidak sepenuhnya menutup pintu untuk Timnas Indonesia.
Tristan Gooijer, Opsi Fleksibel dari Akademi Ajax
Nama berikutnya adalah Tristan Gooijer, pemain muda kelahiran 2 September 2004 yang kini bermain untuk PEC Zwolle dengan status pinjaman dari Ajax. Gooijer memiliki darah Indonesia dari garis keturunan neneknya yang berasal dari Maluku.
Gooijer dikenal sebagai pemain serbabisa. Berdasarkan catatan performanya, ia mampu bermain di berbagai posisi, mulai dari bek kanan, bek tengah, bek kiri, hingga gelandang bertahan dan sayap.
Pengalaman didikan akademi Ajax membuat Gooijer unggul dalam aspek teknik dan pemahaman taktik. Karakter ini sejalan dengan kebutuhan Timnas Indonesia yang kerap bermain dengan skema fleksibel, terutama dalam formasi tiga atau lima bek.
Jika bergabung, Gooijer berpotensi mengikuti jejak pemain naturalisasi lain yang sukses beradaptasi dengan sistem permainan Timnas Indonesia.
Jenson Seelt, Tembok Tinggi dari Jerman dan Inggris
Satu nama lain yang tak kalah menarik adalah Jenson Seelt. Bek tengah bertinggi 195 cm ini saat ini membela VfL Wolfsburg dengan status pinjaman dari Sunderland, klub Premier League Inggris.
Seelt lahir di Ede, Belanda, dan menimba ilmu di akademi PSV Eindhoven sebelum melanjutkan karier ke Inggris pada 2023. Ia sempat mencuri perhatian setelah tampil sebagai starter bersama Sunderland di awal musim Premier League 2025/2026.
Kabarnya, Seelt memiliki darah keturunan Indonesia dari kakeknya yang berasal dari Ambon. Dengan postur ideal dan kekuatan duel udara yang mumpuni, ia dinilai cocok untuk memperkuat lini belakang Timnas Indonesia, khususnya menghadapi lawan-lawan dengan keunggulan fisik.
Naturalisasi sebagai Bagian dari Proyek Jangka Panjang
Herdman menegaskan bahwa naturalisasi bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses membangun tim nasional yang berkelanjutan. Setiap pemain diaspora yang dipertimbangkan harus memiliki kualitas teknis, kesiapan mental, dan komitmen penuh membela Merah Putih.
Dengan target besar menuju Piala Dunia 2030, Timnas Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan standar. Kehadiran pemain diaspora dengan pengalaman Eropa diharapkan mampu mempercepat proses tersebut, sekaligus menjadi mentor bagi pemain lokal.
Keputusan akhir tentu akan melalui berbagai tahapan, mulai dari administrasi hingga penilaian teknis. Namun satu hal jelas, di era John Herdman, peluang bagi pemain diaspora untuk membela Timnas Indonesia kembali terbuka lebar.
BACA JUGA :












