1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Liga 4 Indonesia Diguncang Skandal Kekerasan, Dua Pemain Dihukum Seumur Hidup dalam Sepekan

Kompetisi Liga 4 Indonesia kembali menjadi sorotan tajam publik sepak bola nasional. Dalam rentang waktu hanya sepekan, dua insiden kekerasan di lapangan hijau berujung pada hukuman paling berat dalam dunia sepak bola: larangan beraktivitas seumur hidup. Kasus terbaru melibatkan pemain KAFI Jogja FC, yang menambah daftar panjang evaluasi serius terhadap disiplin dan pengawasan di level kompetisi akar rumput.file

Liga 4 Kembali Tercoreng Insiden Kekerasan

Sepak bola yang seharusnya menjadi ajang pembinaan dan pengembangan pemain justru kembali tercoreng oleh tindakan brutal. Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara resmi menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup kepada Dwi Pilihanto Nugroho, pemain KAFI Jogja FC, akibat pelanggaran keras yang dinilai membahayakan keselamatan lawan.

Insiden tersebut terjadi pada pekan ke-6 Liga 4 Piala Gubernur DIY musim 2025/2026, saat KAFI Jogja FC menghadapi UAD FC Yogyakarta di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Selasa (6/1/2026). Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk KAFI Jogja FC itu justru meninggalkan catatan kelam bagi kompetisi.

Kronologi Insiden di Lapangan Sitimulyo

Pada menit ke-72 pertandingan, Dwi Pilihanto Nugroho yang mengenakan nomor punggung 2 melakukan gerakan berbahaya dengan mengangkat kaki terlalu tinggi, menyerupai tendangan kungfu. Aksi tersebut secara langsung mengenai kepala pemain UAD FC, Amirul, yang seketika terjatuh sambil memegangi bagian kepalanya.

Momen itu memicu reaksi keras dari pemain, ofisial, hingga penonton yang menyaksikan langsung jalannya laga. Meski demikian, keputusan wasit di lapangan hanya memberikan kartu kuning kepada Dwi Pilihanto, keputusan yang kemudian menjadi sorotan dan bahan evaluasi serius dari otoritas sepak bola DIY.

Penjelasan Resmi Asprov PSSI DIY

Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY sekaligus anggota Komite Disiplin (Komdis), Wendi Umar Senoadji, menegaskan bahwa pihaknya tidak mentolerir segala bentuk kekerasan di lapangan, terlebih yang berpotensi mencederai pemain lain.

Setelah melalui proses pemeriksaan mendalam, Komite Disiplin menyatakan bahwa Dwi Pilihanto Nugroho terbukti melanggar Pasal 48 juncto Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025. Atas pelanggaran tersebut, sang pemain dijatuhi dua sanksi berat sekaligus, yakni denda administratif sebesar Rp1 juta dan larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup.

“Hukuman yang dijatuhkan adalah denda Rp1 juta dan larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup,” ujar Wendi Umar dalam keterangan resminya pada Kamis (8/1/2026).

Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi menjaga nilai sportivitas dan keselamatan semua pihak yang terlibat dalam sepak bola. Menurutnya, Liga 4 seharusnya menjadi ruang pembinaan, bukan arena tindakan berbahaya.

Evaluasi Kinerja Wasit Jadi Perhatian

Tak hanya menjatuhkan sanksi kepada pemain, Asprov PSSI DIY juga menaruh perhatian khusus pada kinerja perangkat pertandingan. Komite Wasit PSSI DIY memberikan rekomendasi evaluasi dan pembinaan terhadap wasit yang memimpin laga tersebut.

Dalam pandangan banyak pihak, pelanggaran yang dilakukan Dwi Pilihanto seharusnya diganjar kartu merah langsung, bukan kartu kuning. Oleh karena itu, Komite Wasit akan melakukan penyegaran dan penguatan pemahaman terkait Laws of The Game serta regulasi pertandingan kepada seluruh perangkat pertandingan di bawah naungan PSSI DIY.

“Kami ingin kompetisi ini berjalan sebagai ajang pembinaan yang sehat. Semua pihak wajib menjunjung tinggi sportivitas dan keselamatan,” tambah Wendi Umar.

Bukan Kasus Tunggal di Liga 4

Kasus di DIY bukanlah satu-satunya insiden kekerasan yang terjadi di Liga 4 dalam waktu dekat. Sebelumnya, Komite Disiplin Asprov PSSI Jawa Timur juga menjatuhkan hukuman serupa kepada pemain Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar.

Hilmi dihukum larangan seumur hidup setelah melakukan pelanggaran brutal pada laga babak 32 besar Grup C Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026 melawan Perseta 1970 Tulungagung. Pertandingan tersebut digelar di Stadion Gelora Bangkalan pada Senin (5/1/2026).

Dalam laga itu, Hilmi secara sengaja menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha Ardhiansyah, dengan kekuatan penuh. Akibat insiden tersebut, Firman mengalami luka serius hingga meninggalkan bekas pul sepatu di bagian dadanya.

Ketua Komdis Asprov PSSI Jatim, Samiadji Makin Rahmat, menegaskan bahwa hukuman berat itu diberikan sebagai efek jera. Menurutnya, sepak bola tidak boleh disamakan dengan olahraga bela diri, dan tindakan kekerasan harus diberantas hingga ke akarnya.

Alarm Keras bagi Pembinaan Sepak Bola Nasional

Dua kasus larangan seumur hidup dalam sepekan menjadi alarm keras bagi pengelola kompetisi dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia. Liga 4 yang menjadi fondasi pembinaan pemain muda kini dituntut untuk memperketat pengawasan, edukasi sportivitas, serta kualitas perangkat pertandingan.

Langkah tegas Asprov PSSI DIY dan Jawa Timur menunjukkan komitmen untuk menjaga integritas kompetisi. Ke depan, diharapkan Liga 4 dapat kembali fokus pada tujuan utamanya: mencetak pemain berkualitas dengan karakter sportif, disiplin, dan menjunjung tinggi nilai fair play di lapangan hijau.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE