Manajemen PSIM Yogyakarta akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait keputusan memensiunkan nomor punggung 91 milik Rafinha. Kebijakan tersebut sebelumnya memicu berbagai pertanyaan dari publik dan suporter Laskar Mataram, mengingat Rafinha masih aktif bermain sebagai pesepak bola profesional. Melalui pernyataan manajer tim, PSIM menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi luar biasa sang pemain, bukan semata keputusan simbolik tanpa dasar kuat.
Manajer PSIM, Razzi Taruna, mengungkapkan bahwa manajemen belum sempat menyampaikan klarifikasi kepada media pada hari pengumuman perpisahan dengan Rafinha, 29 Desember 2025. Padatnya agenda internal klub membuat penjelasan resmi baru bisa disampaikan beberapa waktu setelahnya.
PSIM Akui Sempat Timbul Pertanyaan Publik
Razzi Taruna menyadari keputusan memensiunkan nomor punggung 91 memunculkan berbagai reaksi. Sebagian publik mempertanyakan alasan klub mengabadikan nomor pemain yang belum gantung sepatu dan masih aktif berkarier di level profesional.
Menurut Razzi, pertanyaan tersebut wajar muncul karena praktik memensiunkan nomor punggung belum lazim dilakukan oleh klub-klub sepak bola di Indonesia. Namun, PSIM menilai ada nilai historis dan emosional yang melampaui sekadar usia atau status aktif seorang pemain.
Manajemen merasa perlu memberikan pemahaman bahwa keputusan tersebut bukan diambil secara terburu-buru, melainkan melalui pertimbangan panjang dan diskusi internal yang matang.
Terinspirasi Praktik Sepak Bola Eropa
Razzi Taruna menjelaskan bahwa ide memensiunkan nomor punggung Rafinha terinspirasi dari praktik yang kerap dilakukan klub-klub luar negeri. Salah satu contoh yang ia soroti adalah keputusan Birmingham City memensiunkan nomor Jude Bellingham, meski sang pemain masih sangat muda dan aktif bermain.
Dalam kasus tersebut, Jude Bellingham dinilai memberi dampak besar bagi klub, baik dari sisi prestasi maupun finansial. Kontribusinya membantu Birmingham City keluar dari tekanan ekonomi setelah transfer bernilai besar ke Borussia Dortmund.
Meski konteks PSIM dan Birmingham City berbeda, Razzi menilai esensi dari keputusan tersebut serupa, yakni mengapresiasi pemain yang membawa perubahan signifikan dalam perjalanan klub.
Rafinha Dinilai Jadi Titik Balik PSIM
Bagi PSIM, Rafinha bukan sekadar pemain asing yang datang dan pergi. Kehadirannya disebut sebagai titik balik penting setelah klub Yogyakarta itu selama 18 tahun berkutat di Liga 2 tanpa mampu menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Rafinha tampil luar biasa dengan mencetak 20 gol dari 22 pertandingan, sebuah catatan yang mengantarkannya menjadi salah satu pemain terbaik di kompetisi. Lebih dari itu, kontribusinya berdampak langsung terhadap performa pemain lain, khususnya para pemain muda yang berkembang pesat di sekelilingnya.
Manajemen menilai Rafinha memberi standar profesionalisme, mentalitas juara, dan kepemimpinan yang sulit ditemukan dalam waktu singkat.
Sosok yang Dinilai Tidak Tergantikan
Razzi Taruna menegaskan bahwa nilai Rafinha bagi PSIM tidak hanya diukur dari statistik di atas lapangan. Menurutnya, karakter, kepribadian, dan ikatan emosional yang dibangun Rafinha dengan klub dan suporter membuatnya menjadi sosok yang tidak tergantikan.
Manajemen PSIM sepakat bahwa mereka mungkin bisa menemukan penyerang berkualitas di masa depan, tetapi figur dengan kombinasi kualitas teknis, kepemimpinan, dan kedekatan emosional seperti Rafinha sulit terulang.
Ikatan tersebut tercermin dari cara Rafinha berinteraksi dengan suporter, mulai dari selebrasi khas, penggunaan bahasa lokal, hingga kedekatannya dengan budaya Yogyakarta yang membuatnya dicintai publik.
Ikatan Emosional dengan Suporter Laskar Mataram
Hubungan Rafinha dengan suporter PSIM disebut sebagai salah satu faktor utama di balik keputusan memensiunkan nomor punggung 91. Ia dikenal sebagai pemain yang emosional dan ekspresif, menunjukkan rasa cinta terhadap klub tidak hanya saat mencetak gol, tetapi juga dalam keseharian.
Aksi-aksinya di media sosial dan di luar lapangan memperkuat citranya sebagai pemain yang benar-benar menyatu dengan PSIM. Manajemen menilai kehadiran Rafinha menjadi bagian penting dari sejarah klub, termasuk dalam membangun suasana kebersamaan di ruang ganti dan di tribun stadion.
Bentuk Penghormatan, Bukan Tekanan
PSIM menegaskan bahwa keputusan ini murni sebagai bentuk penghormatan, bukan karena tekanan dari kelompok suporter atau kepentingan jangka pendek. Manajemen ingin mengirim pesan bahwa kontribusi besar terhadap klub akan selalu dihargai.
Razzi Taruna juga memastikan hubungan PSIM dengan Rafinha tetap terjalin dengan sangat baik. Baik pemain, staf pelatih, maupun jajaran manajemen masih menjaga komunikasi positif meski sang pemain kini berkarier di klub lain.
Menurut Razzi, Rafinha adalah sosok ikonik yang pantas dijadikan teladan bagi pemain muda PSIM, khususnya dalam hal dedikasi dan profesionalisme.
Babak Baru Rafinha Bersama PSIS Semarang
Saat ini, Rafinha melanjutkan kariernya bersama PSIS Semarang yang berkompetisi di Pegadaian Championship 2025/2026. Pemain berusia 33 tahun tersebut memilih hengkang setelah tidak lagi masuk dalam rencana utama PSIM pada musim BRI Super League.
Meski kini mengenakan seragam berbeda, jejak Rafinha bersama PSIM telah diabadikan dalam sejarah klub. Dengan dipensiunkannya nomor punggung 91, PSIM ingin memastikan bahwa kontribusi sang bomber Brasil akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan Laskar Mataram.
BACA JUGA :
- SBOTOP : Rekor Gemilang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026, Skuad Garuda Unggul atas Semua Rival
- SBOTOP : Maarten Paes Tegaskan Isu ke Persib Hoaks, FC Dallas Tolak Lepas Meski Sudah Ada Kesepakatan
- SBOTOP : Joey Pelupessy Bersinar di Belgia, Lommel SK Tembus Papan Atas di Tengah Isu ke Persib dan Persija












