PSIM Yogyakarta terus menunjukkan performa konsisten pada paruh pertama BRI Super League 2025/2026. Hingga pekan ke-17, Laskar Mataram sukses bertengger di posisi keenam klasemen sementara dengan raihan 30 poin, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi untuk tim promosi yang baru kembali ke level tertinggi sepak bola nasional.
Manajer PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, mengaku bersyukur dengan posisi yang saat ini ditempati timnya. Namun, ia menegaskan bahwa capaian di tengah musim belum bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan secara menyeluruh. Menurut Razzi, fokus utama PSIM tetap berada pada hasil akhir ketika kompetisi benar-benar rampung.
Fokus PSIM Bukan Klasemen Sementara
Razzi Taruna menilai posisi di papan atas klasemen paruh musim hanya menjadi bonus dari kerja keras tim, bukan tujuan utama. Ia menekankan bahwa stabilitas dan konsistensi hingga akhir musim jauh lebih penting dibanding sekadar berada di posisi atas dalam jangka pendek.
Ia juga mencontohkan banyak kasus dalam kompetisi sebelumnya, di mana tim yang tampil impresif di paruh musim justru mengalami penurunan performa drastis pada putaran kedua. Sebaliknya, ada pula tim yang sempat terseok di awal musim, tetapi mampu finis di posisi lebih baik ketika kompetisi berakhir.
Menurut Razzi, PSIM tidak ingin terjebak dalam euforia sesaat. Manajemen dan tim pelatih memilih bersikap realistis dalam menentukan target, sembari terus mengevaluasi performa dari pekan ke pekan agar tetap berada di jalur yang tepat.
Statistik Positif Laskar Mataram di Paruh Musim
Secara statistik, performa PSIM Yogyakarta memang layak mendapat apresiasi. Dari total 17 pertandingan yang telah dijalani, Laskar Mataram berhasil mengoleksi delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya menelan tiga kekalahan. Catatan tersebut menempatkan PSIM sebagai salah satu tim dengan tingkat konsistensi cukup baik di papan tengah ke atas.
Produktivitas tim juga terbilang stabil, dengan pertahanan yang relatif solid saat menghadapi tim-tim papan atas. Hal ini menunjukkan bahwa PSIM tidak hanya mengandalkan semangat promosi, tetapi juga mampu bersaing secara taktik dan mental di level BRI Super League.
Bagi Razzi Taruna, pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen tim, mulai dari pemain, staf pelatih, hingga manajemen. Meski demikian, ia menilai perjalanan PSIM masih panjang dan penuh tantangan, terutama saat memasuki putaran kedua kompetisi.
Ajakan Manajemen untuk Terus Memberi Dukungan
Di tengah tren positif tersebut, Razzi Taruna mengajak seluruh elemen pendukung PSIM untuk terus memberikan dukungan secara konsisten. Ia menegaskan bahwa sokongan suporter menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas mental pemain, khususnya saat tim menghadapi periode sulit.
Razzi menilai dukungan tidak hanya dibutuhkan ketika tim menang, tetapi justru sangat krusial ketika PSIM berada dalam situasi kurang ideal. Ia juga menegaskan bahwa manajemen dan tim teknis PSIM tidak menutup diri terhadap kritik selama disampaikan secara konstruktif.
Menurutnya, kritik yang membangun justru dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi tim pelatih dalam menentukan langkah ke depan. Komunikasi antara manajemen, pelatih, dan suporter pun dinilai harus tetap terjaga demi kepentingan bersama.
Tekanan dan Ekspektasi di Putaran Kedua
Memasuki putaran kedua BRI Super League 2025/2026, Razzi Taruna menyadari potensi tekanan yang semakin besar terhadap PSIM Yogyakarta. Posisi di enam besar membuat ekspektasi publik meningkat, dan hal tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi tim promosi seperti PSIM.
Ia menggambarkan situasi hipotetis apabila PSIM mengalami dua kekalahan beruntun. Dalam kondisi tersebut, sorotan dan kritik dipastikan akan semakin deras, terlebih karena PSIM sudah terlanjur dipandang sebagai tim papan atas oleh sebagian publik.
Padahal, secara logika kompetisi, kekalahan beruntun bagi tim promosi bukanlah hal yang luar biasa. Namun, standar yang terlanjur naik membuat setiap hasil negatif berpotensi memicu reaksi berlebihan. Razzi menilai situasi ini sebagai tanda positif sekaligus tantangan, karena menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap PSIM kini jauh lebih tinggi dibanding awal musim.
Menjaga Mental dan Konsistensi Hingga Akhir Musim
Razzi Taruna menekankan bahwa kunci utama bagi PSIM Yogyakarta untuk bertahan di papan atas adalah menjaga mentalitas dan konsistensi permainan. Ia berharap seluruh pemain tetap fokus pada proses, tidak terpengaruh pujian berlebihan, dan mampu merespons tekanan dengan cara yang tepat.
Manajemen PSIM juga berkomitmen untuk terus mendukung kebutuhan tim, baik dari sisi teknis maupun non-teknis, agar performa tetap stabil hingga akhir musim. Evaluasi rutin akan terus dilakukan demi memastikan tim tidak kehilangan arah di tengah ketatnya persaingan BRI Super League.
Dengan sisa pertandingan yang masih panjang, posisi keenam yang saat ini ditempati PSIM menjadi modal berharga, namun bukan jaminan. Bagi Razzi Taruna dan manajemen, yang terpenting adalah bagaimana Laskar Mataram menutup musim dengan pencapaian terbaik, bukan sekadar menikmati posisi sementara di klasemen.
BACA JUGA :












