Situasi sulit tengah menyelimuti Persis Solo di BRI Super League 2025/2026. Tekanan hasil buruk, ancaman degradasi, serta kekecewaan suporter membuat kondisi internal tim berjuluk Laskar Sambernyawa kian tidak kondusif. Hal tersebut diungkapkan secara terbuka oleh salah satu pemain senior Persis, Rian Miziar, yang menilai timnya sedang berada dalam fase paling berat dalam beberapa musim terakhir.
Kekalahan dari Persita Tangerang pada pekan ke-16 menjadi titik krusial yang mempertegas kondisi sulit Persis Solo. Bermain di kandang sendiri, Stadion Manahan, Minggu (4/1/2026) sore WIB, Persis kembali gagal meraih poin penuh, membuat tekanan dari berbagai arah semakin besar.
Kekecewaan Suporter Meledak di Stadion Manahan
Laga kontra Persita tidak hanya menyisakan hasil mengecewakan di papan skor, tetapi juga memunculkan reaksi keras dari tribun penonton. Menjelang akhir babak kedua, suporter Persis Solo menyalakan sejumlah cerawat atau flare di beberapa titik stadion.
Aksi tersebut membuat pertandingan sempat dihentikan wasit karena asap tebal menutup sebagian area lapangan. Situasi ini mencerminkan puncak kekecewaan suporter terhadap performa tim kesayangan mereka yang terus terpuruk di papan bawah klasemen.
Rian Miziar menilai reaksi suporter tersebut merupakan bentuk luapan emosi yang wajar. Namun, ia menegaskan bahwa rasa kecewa bukan hanya dirasakan oleh pendukung, melainkan juga oleh para pemain di dalam tim.
Ruang Ganti Persis Solo Diliputi Frustrasi
Menurut Rian, tekanan bertubi-tubi yang dialami Persis Solo berdampak langsung pada kondisi psikologis pemain. Ruang ganti tim saat ini berada dalam situasi sulit karena para pemain merasa frustrasi lantaran hasil positif tak kunjung datang.
“Bukan hanya suporter yang kecewa. Kami sebagai pemain juga sangat frustrasi dengan kondisi ini. Kami sudah berusaha, tapi hasilnya belum sesuai harapan,” ungkap Rian.
Bek senior yang sudah membela Persis sejak 2021 itu mengakui bahwa menjaga mental pemain menjadi tantangan besar. Kekalahan demi kekalahan membuat kepercayaan diri tim terkikis, sementara tuntutan untuk segera bangkit terus menghantui setiap pertandingan.
Meski demikian, Rian menegaskan bahwa para pemain tetap berkomitmen untuk berjuang hingga akhir musim demi menyelamatkan Persis dari ancaman degradasi.
Tantangan Lolos Degradasi Jauh Lebih Berat
Rian Miziar secara terbuka membandingkan situasi Persis Solo musim ini dengan musim sebelumnya. Menurutnya, tantangan untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia kini jauh lebih berat.
“Yang paling penting sekarang adalah memaksimalkan bursa transfer paruh musim. Posisi kami saat ini, menurut saya, lebih berat dibandingkan musim lalu,” ujar pemain kelahiran 13 Oktober 1990 itu.
Ia menambahkan bahwa secara perolehan poin, Persis tertinggal cukup jauh dibanding musim sebelumnya. “Saat menutup putaran pertama musim lalu, kami mengoleksi 10 poin. Musim ini, kami baru mengantongi tujuh poin dengan sisa satu pertandingan. Ini jelas situasi yang sangat sulit,” lanjutnya.
Statistik tersebut menjadi alarm bahaya bagi Laskar Sambernyawa, mengingat persaingan di papan bawah semakin ketat dan setiap poin menjadi sangat berharga.
Bursa Transfer Jadi Kunci Penyelamatan Musim
Menghadapi situasi genting ini, Rian menilai bursa transfer paruh musim sebagai momentum paling krusial yang harus dimanfaatkan manajemen. Ia menegaskan bahwa Persis Solo membutuhkan tambahan pemain baru untuk memperkuat skuad di putaran kedua.
Menurut Rian, perekrutan pemain bukan sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan. “Mendatangkan pemain baru itu mutlak. Kami butuh penyegaran dan kualitas tambahan untuk mengangkat performa tim,” tegasnya.
Ia berharap manajemen Persis dapat bergerak cepat dan tepat dalam merekrut pemain yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tim.
Penyesuaian Era Pelatih Jadi Faktor Penting
Salah satu alasan utama perlunya tambahan pemain, menurut Rian, adalah perbedaan filosofi antara pelatih lama dan pelatih baru. Sebagian besar pemain saat ini merupakan pilihan pelatih sebelumnya, Peter de Roo, sementara Persis kini ditangani oleh Milomir Seslija.
“Di era Peter de Roo, kebutuhannya berbeda. Sekarang di era Milo, kebutuhannya juga pasti berbeda. Ini yang harus dipahami,” jelas Rian.
Ia menekankan pentingnya komunikasi yang intens antara pelatih dan manajemen. “Pelatih dan manajemen harus duduk bersama. Apa yang diinginkan Milo dan apa yang bisa dipenuhi manajemen harus bertemu di tengah,” katanya.
Menurut Rian, keselarasan visi ini akan sangat menentukan nasib Persis Solo di putaran kedua kompetisi.
Harapan Bangkit di Paruh Musim Kedua
Meski situasi terlihat sulit, Rian Miziar menegaskan bahwa peluang Persis Solo untuk bangkit masih terbuka. Dengan langkah tepat di bursa transfer, pembenahan mental pemain, serta dukungan suporter yang tetap loyal, Laskar Sambernyawa diyakini masih mampu keluar dari zona berbahaya.
“Musim belum berakhir. Kami masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Tapi semua pihak harus bergerak bersama,” tutup Rian.
Kini, bola berada di tangan manajemen dan tim pelatih Persis Solo. Keputusan mereka dalam beberapa pekan ke depan akan sangat menentukan apakah Laskar Sambernyawa mampu bertahan di BRI Super League 2025/2026 atau justru harus menerima kenyataan pahit degradasi.
BACA JUGA :
- SBOTOP : Matheus Alves Akhirnya Cetak Gol Perdana untuk Persita di BRI Super League, Dedikasikan Selebrasi untuk Sang Anak
- SBOTOP : Johnny Jansen Harap Klub Lebih Selektif di Bursa Transfer BRI Super League, Bukan Sekadar Rekomendasi Video
- SBOTOP : Persijap Hadapi Alarm Bahaya di BRI Super League, Divaldo Alves Buka Suara Soal Kebutuhan Pemain Baru












