1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Terungkap Peran Besar Bernardo Tavares di Balik Performa Menanjak Persebaya

Persebaya Surabaya mengawali perjalanan mereka di BRI Super League 2025/2026 dengan situasi yang jauh dari ideal. Tim kebanggaan Kota Pahlawan tersebut sempat diguncang hasil buruk yang memunculkan tanda tanya besar soal arah permainan dan stabilitas tim. Kekalahan mengejutkan dari PSIM Yogyakarta pada pekan pembuka menjadi alarm keras, meski pada laga-laga berikutnya Persebaya sempat meraih beberapa kemenangan.

Namun, kemenangan tersebut belum cukup menutupi berbagai persoalan mendasar yang muncul di tubuh Green Force. Permainan yang dinilai monoton, aliran bola yang kerap tersendat, serta minimnya variasi taktik membuat Persebaya kesulitan ketika menghadapi lawan-lawan dengan organisasi permainan yang lebih solid.

Kritik Mengarah ke Eduardo Perez

Sorotan tajam pun mengarah kepada Eduardo Perez, yang saat itu menjabat sebagai pelatih kepala. Pelatih asal Spanyol tersebut dinilai gagal menemukan formula terbaik untuk memaksimalkan potensi skuad Persebaya. Pola permainan yang mudah terbaca lawan membuat Persebaya kehilangan identitas agresif yang selama ini menjadi ciri khas mereka.

Situasi semakin rumit ketika hasil buruk mulai berdampak pada kepercayaan suporter. Bonek, yang dikenal fanatik dan kritis, mulai meluapkan kekecewaan mereka. Puncaknya terjadi saat Persebaya hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Arema FC dalam laga sarat gengsi.

Hasil tersebut menjadi titik balik. Manajemen Persebaya akhirnya mengambil langkah tegas dengan mengakhiri kerja sama bersama Eduardo Perez pada akhir November. Keputusan ini diambil demi menyelamatkan musim dan menjaga asa Persebaya tetap bersaing di papan atas.

Krisis Pemain Jadi Faktor Penghambat

Meski mendapat banyak kritik, hasil minor yang diraih Persebaya tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada Eduardo Perez. Pada periode tersebut, Green Force tengah dilanda krisis pemain akibat cedera dan akumulasi kartu. Beberapa pilar utama harus menepi, membuat komposisi tim jauh dari ideal.

Kondisi ini memaksa Persebaya mengandalkan pemain yang tersisa, dengan kedalaman skuad yang terbatas. Situasi tersebut jelas menyulitkan siapapun yang berada di kursi pelatih.

Uston Nawawi dan Peran Interim yang Berat

Setelah kepergian Eduardo Perez, manajemen menunjuk Uston Nawawi sebagai pelatih interim. Namun, tugas Uston terbukti tidak mudah. Dengan keterbatasan pemain dan minimnya opsi di bangku cadangan, Persebaya kesulitan menemukan konsistensi permainan.

Dalam beberapa pertandingan, Persebaya tampak bermain tanpa arah yang jelas. Transisi permainan kerap lambat, koordinasi antarlini belum padu, dan kreativitas di lini serang masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Meski demikian, Uston Nawawi berusaha menjaga stabilitas tim sembari menunggu kedatangan pelatih kepala baru yang telah dipersiapkan manajemen.

Perubahan Drastis di Pertengahan Desember

Menariknya, perubahan signifikan mulai terlihat pada pertengahan Desember. Permainan Persebaya perlahan menunjukkan peningkatan yang cukup mencolok. Bruno Moreira dan rekan-rekannya tampak bermain lebih terorganisasi, agresif dalam menekan lawan, serta lebih disiplin dalam bertahan.

Banyak pihak menilai seolah-olah Persebaya mendapatkan “buku panduan baru” dalam bermain. Pola pergerakan tanpa bola lebih rapi, transisi bertahan ke menyerang lebih cepat, dan penguasaan ruang di lini tengah semakin efektif.

Perubahan ini memunculkan tanda tanya: apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?

Bernardo Tavares, Arsitek di Balik Kebangkitan

Jawabannya akhirnya terungkap. Sosok di balik perubahan permainan Persebaya adalah Bernardo Tavares, pelatih anyar yang ditunjuk manajemen untuk menakhodai Green Force. Meski secara fisik belum hadir di Surabaya saat perubahan itu mulai terlihat, pemikiran dan konsep permainan Tavares ternyata sudah diterapkan.

Pelatih asal Portugal berusia 45 tahun tersebut memang tidak langsung datang ke Indonesia setelah diumumkan. Bernardo Tavares baru tiba di Surabaya pada Minggu malam (4/1/2026). Namun, ia menegaskan bahwa pekerjaannya sudah dimulai jauh sebelum itu.

“Pekerjaan saya sudah dimulai sejak bulan Desember. Bukan saat mereka menang atau saat mereka seri. Begitu kesepakatan tercapai, saya sudah mulai bekerja untuk Persebaya,” ungkap Tavares.

Kerja Jarak Jauh yang Efektif

Bernardo Tavares menjelaskan bahwa dirinya bersama staf kepelatihan, termasuk asisten Renato Duarte, telah bekerja intensif secara jarak jauh. Mereka menganalisis pertandingan, menyusun program latihan, hingga memberikan arahan taktik yang langsung diaplikasikan oleh tim di lapangan.

“Tidak ada periode jeda bagi saya. Bagi saya, bekerja bukan hanya saat saya tiba di sini. Saya dan asisten saya sudah bekerja keras sebelum datang ke Surabaya,” tegasnya.

Pendekatan profesional ini mendapat apresiasi luas. Banyak pihak menilai Tavares menunjukkan komitmen tinggi sejak awal, sesuatu yang dibutuhkan Persebaya untuk bangkit dari keterpurukan.

Harapan Baru bagi Green Force

Kini, dengan kehadiran Bernardo Tavares secara langsung di Surabaya, optimisme kembali tumbuh di kubu Persebaya. Sentuhan taktik dan disiplin ala Portugal diharapkan mampu membawa Green Force tampil lebih konsisten dan kompetitif di sisa musim BRI Super League 2025/2026.

Manajemen, pemain, dan suporter berharap kebangkitan ini bukan sekadar momentum sesaat, melainkan awal dari perjalanan panjang Persebaya menuju papan atas. Di bawah arahan Bernardo Tavares, Green Force kini memiliki arah yang lebih jelas—dan harapan baru untuk kembali berjaya.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE